Komentar atau biasa di sebut komen, adalah hal yang hampir wajib dalam khasanah blog Indonesa. Kenapa Indonesa? Karena, menurut dugaan saya, negara kita yang sontoloyo ini menciptakan suasana ketakutan pada individu-individu.
Untuk mengatasainya mereka membentuk kelompok. Hasilnya, muncullah keakraban antar individu yang lebih dari negara lain. Bukankah budaya grudag-grudug hanya ada disini? Bukankan hobi apa pun bisa menciptakan komunitas? Bukankah hobi kere pun masih bisa memunculkan BHI? Semangat komunal adalah cara untuk mengatasi ketidak-percaya-dirian per individu. Seperti guru-guru sekolah dasar dulu selalu bilang: lidi satu lebih mudah dipatahkan daripada sebuah sapu lidi. Benar tidaknya ya entah.
Pada awalnya, dan masih berlaku hingga saat ini, komentar merupakan bentuk apresiasi pembaca baik blogger maupun bukan terhadap ide yang penulis sampaikan. Pada perkembangannya, komen berkembang sebagai alat sosial antar blogger untuk mempererat hubungan antara penulis dan komentator. Pada hubungan yang kuat, komen bisa berisi ledekan, ejekan, bahkan makian.
Sejalan dengan semangat komunal, biasanya seorang blogger akan mencari blog-blog baru (termasuk hubungan pertemanannya). Lagi dan lagi. Hubungan pertemanan berkembang pesat. Di sisi lain, belantara blog yang begitu luas dan seperti tak terbatas, membuat waktu untuk sebuah tulisan semakin sempit. Maka kemudian, muncullah istilah jablay blog. Sebutan untuk mereka yang tidak benar-benar membaca, namun tetap ingin mempertahankan hubungan baik dengan teman mayanya yang semakin banyak.
Namanya juga kejar tayang, tentu saja tinggalan jejak ini terkesan asal-asalan. Maka tak perlu heran jika fahmi yang menerapkan aturan untuk para komentator di blognya:
1. NO pertamax.
2. Anonymous commenters are cowards.
3. Say something nice, or just shut up.
Ndoro, secara meledek juga pernah menerapkan aturan:
"Belum ada yang komentar, ayo bilang pertamax"
Rabu, Mei 07, 2008
Komentar
Diposting oleh MATA di 19.53
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar